.
.
Satu bulan setelah
aku menjalani hari hari pertama ku di kos, ada satu penampakkan baru.
Ya, ternyata ada anggota baru di kos kami. Nisa, begitulah cara dia memanggil
dirinya. Aku tidak berekspektasi kalau ternyata di kemudian hari kehadirannya
akan sangat berpengaruh pada kehidupanku. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang
merencanakan hal ini.
Allah berfirman:
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ
قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Sebagai suatu sunnatullah yang
telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan
bagi sunnatullah itu.” (Q.S. Al-Fath: 23)
Hanya sekedar mengenal namanya saat kami kelas 10. Ya, kami
berbeda kelas. Benar-benar layaknya teman biasa saja. Tidak pula aku merasa ada
perubahan dalam hidupku karena dia.
Naiklah kita ke kelas 11. Singkat cerita, kami satu kelas.
Lagi, akupun merasa biaasa saja. Tidak ada hal yang mengganjal.
Namun, petualanganku mulai memuncak beberapa saat kemudian.
Satu kelas membuat kita semakin direkatkan. Mungkin, hampir tidak disadari,
kita semakin mudah untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Di kos, berangkat
sekolah, di kelas, pulang ke kos, main, sekolah lagi, di kelas, main lagi,
organisasi, event, kos lagi, terus saja begitu. Sahabat baru? Bahagia?
Di tengah petualanganku itu, aku menyadari satu hal. Bahwa,
Tidak mudah memang berada dekat dengan orang seperti dia.
Salah satu orang yang berada di atas pondasi yang aku buat (yaitu diriku
sendiri). Ranking minimal 3 besar, menang lomba sana sini, nilai selalu bagus,
aku harus menyebutkan apalagi untuk mendiskripsikan bagaimana “dewa” nya dia?
(hanya ungkapan, ya). Apakah bisa dibayagkan, bagaimana cara agar semut bisa
berteman dengan gajah? Apakah bisa dibayangkan, bagaimana tanaman tauge bisa
berteman dengan beringin? Apakah bisa dibayangkan, bagaimana tanah bisa berteman
dengan langit? Mungkin, tu perumpamaan sederhananya.
Lagi, setiap hari aku harus duduk berada tepat di belakang
dia saat pelajaran berlangsung. Dan, kalian tahu apa? Jangankan memahami apa
yang guruku sampaikan, mendengarnya pun kadang tidak sanggup.
Aku tidak menyalahkan dia dalam hal ini, karena memang ini
bukan kesalahannya. Jujur saja, aku hanya merasa tertekan dengan posisiku saat
itu. Aku bahkan masih merasa heran bagaimana caraku bisa melalui semua ini.
Mungkin orang-orang akan mengatakan, “lah, kenapa kamu ga
tanya aja sama dia kalau kamu bingung? Kan kamu malah bisa lebih mudah diajarin
sama dia?”
Yap. Itu salah satu hal yang sampai saat ini masih menjadi
pertanyaan untuk ku. Sederhana saja, aku belum bisa menerima posisi ku. Aku
belum bisa menerima menjadi semut dari gajah, menjadi tanaman tauge dari
beringin, menjadi tanah dari langit. Itu sangat jauh terbalik dari kebiasaanku.
Maasya Allah. Aku akui, bekas bekas “rasa nyaman” itu memang masih ada. Rasa
nyamanku yang selalu ku rasakan. Selalu berada menjadi yang ‘teratas’. Aku
belum bisa menerima keadaan.
..
.
.
Bersambung.
#MasaSMA #Motivasi #SNMPTN #Pengalaman #Viral #Seru #menantang #SMA #jogjakarta #sekolah #vibes #tutorial #cerita #ceritabersambung #contohteks #baca #literasi #indonesia #sman1yogyakarta #smateladan
=======================
🔻Follow me:
on instagram
on youtube
Comments
Post a Comment